free hit counters
 

TV Islam, Kapan?

Assalamu alaikum wr wb

Pak Rizky yang baik…kenapa ya kok susah banget umat Islam Indonesia ini punya stasiun TV? Padahal umatnya banyak, ZIS-nya milliaran, orang kayanya tiap tahun umroh dengan biaya jutaan, Mall-nya kalo mau lebaran nggak pernah sepi. Saya sebagai ibu rumah tangga sangat khawatir dengan media yang ada sekarang.

Bayangkan setiap hari tayangan TV selalu menyajikan: Pornografi (atas nama Islam), Kekerasan/kriminal, Mistis, Hedonisme, Politik busuk, Kartun tidak mendidik, walaupun masih ada juga program yang baik tapi sangat minim.

Sebenarnya kita semua sudah tahu, mas Rizky tahu, pimpinan ummat tahu, sebagian besar orang juga tahu, tapi kok saya lihat semuanya sibuk sendiri???? Itu yang sibuk di parlemen sibuk kampanya yang dananya habis milyaran, kan mending dibikin stasiun TV!!

Mas Rizky saya yakin eramuslim sebenarnya bisa bikin TV, di mulai saja mas dengan bikin program sederhana kerjasama dengan TV swasta yang ada, atau bikin TV online versi Youtube, pokoknya saya tunggu gebrakan eramuslim…

Syukron

Liza

www.rumah-liza.com

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Terima kasih Ibu Liza yang baik.. Apa yang didambakan ibu, saya percaya juga didambakan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Umat Islam Indonesia memang seharusnya sudah memiliki stasiun TV sendiri yang profesional namun tidak melacurkan nilai-nilai Islam demi apa pun dalam segala hal. Sayang, realitas yang ada tidak selalu seperti yang kita harapkan bersama.

Walau umat Islam di negeri ini merupakan terbesar di dunia, orang-orang Islam yang sudah dikaruniai harta yang kelewat banyak juga tidak sedikit, namun di negeri ini belum ada satu pun stasiun TV Islam yang seperti kita impikan. Tokoh-tokoh umat Islam di Indonesia saya yakin bukannya tidak sadar akan urgensi penguasaan akan media TV demi memperjuangkan agama ini, namun mereka hanya sebatas sadar, sebatas tahu, namun hal itu belum mampu mereka realisasikan ke dalam tindakan nyata.

Mereka lebih suka berlomba-lomba ikutan audisi ‘Pilkada Idol’ atau ‘Caleg Idol’ karena lebih cepat ‘Break Event Point’ alias ‘Balik Modal’ tanpa harus bersusah-payah berpikir memeras otak. Hal ini tentu jauh lebih gampang dibanding mendirikan stasiun TV Islami yang menuntut profesionalitas total karena ini ‘bisnis’ yang bersifat Show Must Go On. Dan melihat fakta yang ada, sepertinya tokoh-tokoh kita belum memiliki hal ini.

Kita patut bersedih atas hal ini. Karena umat Budha di Indonesia yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari kita sudah memiliki stasiun TV-nya sendiri, DAAI TV, yang saya lihat selama ini bagus-bagus acaranya.

Di tahun 2000, saya pernah bergabung dengan sejumlah pengusaha Muslim papan atas membahas rencana pembuatan stasiun TV Islam. Salah satu kendala yang paling sulit, ini kata mereka, adalah memperoleh frekwensi khusus untuk itu. Selain tentu saja, pertimbangan bisnisnya seperti sulit mudahnya mendapat iklan. Soalnya kami tahu, jika iklan itu ada mafianya, walau tidak semua. Di Indonesia ini, perusahaan-perusahaan besar selalu mendewakan rating acara TV untuk beriklan. Nah, masalahnya satu-satunya perusahaan pemberi rating di Indonesia ini dimiliki oleh AS, yakni HC Nielsen. Jika kita bikin stasiun TV Islam, kira-kira kita bisa bayangkan rating seperti apa yang mereka berikan kepada kita. Padahal stasin TV itu sangat tergantung pada pemasukan dari iklan. Ini salah satu kendala terberat.



Sekarang ini memang banyak stasiun TV swasta nasional, belum lagi stasiun-stasiun TV lokal di banyak daerah. Namun acara yang ditayangkan sungguh-sungguh jauh dari nilai mendidik seperti yang Ibu tulis. Saya setuju seratus persen dengan itu. Sebab itu, di rumah kami, TV jarang sekali hidup. Paling-paling dihidupkan untuk acara-acara tertentu saja yang memang penting seperti berita, ilmu pengetahuan, dan hiburan yang ada nilai edukasinya.

Tentang harapan Ibu sendiri agar eramuslim bisa membikin TV, ya itu juga harapan kami semua. Insya Allah. Namun kami juga tahu jika untuk ke situ memerlukan banyak hal yang kini mungkin belum kami miliki. Salah satunya dana. Kami belum memiliki dana triliunan seperti yang dimiliki tokoh-tokoh Islam yang kini sudah makmur dan sanggup mencetak kaos dan bendera ratusan juta buah, sanggup membikin iklan dirirnya yang tiap jam nongol di TV, dan sebagainya.

Doakan ya Bu, mudah-mudahan hal itu bisa kami rintis dari yang sederhana saja, misal jadi situs informasi Islam yang memiliki fasilitas audio-visual seperti yang ada di You Tube dan sebagainya. Mudah-mudahan, dari yang kecil itu kita bisa memulai membuat sesuatu yang lebih besar, yang lebih bermanfaat bagi kemajuan dakwah Islam di negeri ini. Amien.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Di Balik Konspirasi Terbaru